Kamis, 08 Maret 2012

klarifikasi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah

Polemik tentang permintaan klarifikasi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) terkait tayangan langsung silaturahmi keluarga besar Aziz Qahhar Mudzakkar di SUN TV terus berlanjut. Ketua KPID Sulsel Rusdin Tompo bahkan bersitegang dengan Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Sulsel Aswar Hasan mengenai surat yang dilayangkan KPID ke SUN TV.

Ketegangan ini terjadi dalam diskusi “Netralitas Media Penyiaran Jelang Pilgub Sulsel” yang digelar Lingkar Jurnal Indonesia (LJI) di Abbey Road CafĂ©, sore kemarin. Keduanya tampil sebagai narasumber, namun Rusdin tersulut emosi. Diskusi ini digelar menyusul polemik surat klarifikasi Ketua KPID Sulsel yang mempersoalkan tayangan langsung deklarasi keluarga Aziz Qahhar di Lanipa, Luwu, Minggu (4/2) lalu.Namun, berbagai kalangan menilai permintaan klarifikasi oleh Ketua KPID itu terkesan tendensius.

Apalagi, saat ini tengah hangathangatnya suhu politik di Sulsel menjelang pilgub. Itulah sebabnya LJI memandang perlunya dialog untuk mengakhiri polemik tersebut. Dalam dialog kemarin, Aswar yang juga mantan Ketua KPID Sulsel ini memberikan pemahaman kepada Rusdin terkait etika pemberian surat klarifikasi ke lembaga penyiaran. Aswar menilai langkah Rusdin yang menyebarkan siaran pers ke media massa soal surat klarifikasi ke SUN TV kurang etis. Rusdin bukannya menjawab pendapat rekan sejawatnya itu di KPID Sulsel periode lalu.

Dia malah menyindir kinerja Aswar saat masih menjabat sebagai ketua KPID. Suasana dialog pun mulai memanas.Aswar tidak menerima tudingan Rusdin karena keluar dari konteks dan menyinggung ranah pribadi. Untungnya, anggota DPRD Kota Makassar Suwarno yang hadir sebagai peserta diskusi, langsung melerai dan meminta kedua tokoh itu saling bersalaman. Hanya saja, adu argumen kembali berlanjut sesaat sebelum Rusdin meninggal lokasi. Keduanya mulai saling tunjuk dan sempat saling berhadapan sebelum dilerai Suwarno.Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel Jayadi Nas ikut menyaksikan ketegangan Aswar dan Rusdin.

Menurut Aswar, langkah yang ditempuh Ketua KPID masuk ke ranah pembunuhan karakter karena menghakimi SUN TV terlebih dahulu. Dia mengatakan, apa yang dilakukan KPID dengan langsung mengirim rilis ke media cetak tanpa meminta klarifikasi ke SUN TV sebelumnya, di luar dari konteks yang sering dijalankannya saat masih aktif sebagai komisioner dua periode. “Ini kanseakan-akan menghakimi orang. Kok belum diminta klarifikasi,tapi sudah dipublikasi ke luar. Saya dulu, kalau ada dugaan pelanggaran, kita meminta klarifikasi terlebih dahulu. Nanti bila memang ada dugaan pelanggaran, baru kita ekspose,”terang dia.

Atas tindakan itu, Ketua KIP Sulsel tersebut menyebut ada dua dampak yang ditimbulkan. Masing-masing pembunuhan karakter dan memberikan promosi ke lembaga penyiaran yang dijadikan sasaran.“Kenapa membunuh karakter,karena itu tadi pengelola stasiun TV tidak diberikan kesempatan membela. Sehingga yang muncul di publik,seakan-akan SUN TV melanggar. Implikasi keduanya, tentu promosi buat SUN TV karena dibesar-besarkan,” papar Aswar, yang juga pengamat komunikasi Unhas ini.

Sementara itu, Rusdin menjelaskan bahwa langkah yang dilakukannya sudah benar. Alasannya, permintaan klarifikasi yang dipublikasikan ke media merupakan bagian pengawasan yang dijalankannya. Dia membantah bila pihaknya melakukan secara sepihak. Apalagi, permintaan tersebut baru sebatas klarifikasi, dan belum masuk pada kategori pelanggaran.Untuk itu, penjelasan dari pengelola stasiun TV bersangkutan harus memberikan penjelasannya. “Ini kerja rutin kami.Hanya permintaan klarifikasi untuk hak jawab kepada media penyiaran.

Kita mau tahu,jangan sampai hanya karena perbedaan pemahaman saja. Kenapa kita publish, karena KPID itu lembaga publik,”kata Rusdin. Dia juga menampik bila berlaku tak adil bagi SUN TV. Sebab, peringatan serupa sering dilakukannya bila ada dugaan pelanggaran ke media penyiaran. Hanya saja tidak dibesar-besarkan di media.“Itu semua kita lakukan, biar kalau ada yang tidak dipahami tentang aturan penyiaran,maka KPID memberikan arahan-arahan,biar nantinya tidak melanggar. Esensi diberikan surat permintaan klarifikasi lebih awal biar ada langkah pembinaan,”kata Rusdin.

Sosialisasi Pilgub dan Mencerdaskan Pemilih

Bagaimana Ketua KPU Sulsel Jayadi Nas menanggapi polemik tersebut? “Apa yang dilakukan SUN TV dengan menyiarkan kegiatan bakal kandidat tidak perlu dipersoalkan. Pasalnya,belum ada sosialisasi kandidat yang bisa melanggar, sepanjang belum ada tahapan resmi KPU,”katanya.

Menurut dia, siaran atau pemberitaan media terhadap masing-masing bakal calon justru memberikan nilai positif bagi masyarakat. Siaran langsung televisi lokal di Sulsel soal kegiatan kandidat ikut menyosialisasikan momentum pilgub yang akan digelar Januari 2013. Bahkan,Jayadimenyebutsiaran langsung kegiatan politik di Sulsel akan mendorong pencerdasan politik bagi masyarakat.

Pernyataan sama disampaikan Direktur LJI Basri Kajang yang juga tampil sebagai narasumber. Bagi dia, tayangan langsung kegiatan politik atau kandidat sangat penting karena warga semakin tahu tentang profil masing-masing kandidat. Selain itu, masyarakat juga akan mengetahui visi-misi dan program masing-masing kandidat yang akan maju.“Justru ini penting agar masyarakat tahu program yang dijadikan jualan politik oleh para kandidat,”katanya.


0 komentar: