Rabu, 06 April 2011

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah mengklaim berhasil menurunkan angka buta aksara di daerah berjuluk Butta Toa sejak 2008 hingga 2010. Berdasarkan data yang diperoleh media massa dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantaeng, pada 2008, penurunan angka buta aksara mencapai 12%, memasuki 2009 terjadi penurunan hingga 9,33%, memasuki 2010 sudah berada pada angka 6,97%. “Mari kita kembalikan kejayaan Bantaeng. Warga di sekitar Bantaeng saat ini sudah menjadikan daerah ini sebagai tempat menimba ilmu. Itu artinya perlahan tapi pasti, Bantaeng akan kembali menjadi pusat di bagian selatan Sulsel,” kata dia kemarin.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Kadisdispora) Bantaeng A Sinasari mengatakan, dalam dua tahun terakhir, pada kepemimpinan Nurdin Abdullah terjadi penurunan buta aksara yang cukup signifikan. Dia berharap pada 2011 ini angka penurunan buta aksara terus ditingkatkan. “Sebelum Pak Bupati memimpin, peringkat pendidikan maupun buta aksara di daerah ini terbelakang. Namun, dalam dua tahun terakhir, tren perkembangannya sudah membaik.

Bahkan sudah mendekati rata-rata nasional 5%,”ujarnya. Para orang tua siswa pun semakin sadar pentingnya pendidikan. Terbukti dengan sambutan hangat terhadap kehadiran lembaga bimbingan belajar, seperti Gama dan Jils. “Sekarang orang tua semakin sadar,selain melalui pendidikan formal di sekolah, mereka juga memasukkan anakanaknya ke bimbingan belajar. Ini kan dibayar mahal, tapi lebih berguna untuk masa depan anak,”ujarnya.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Dulu orang tua hanya mengandalkan pendidikan di sekolah. Kini sudah ada alternatif untuk menambah pengetahuan anak didik melalui lembaga-lembaga pendidikan swasta tersebut. Khusus pemberian pendidikan karakter terhadap anak didik, para guru menjemput anak didiknya di pintu-pintu masuk. “Para guru berjajar menerima muridnya sehingga terjadi interaksi yang diharapkan berlanjut ke rumah,”papar dia.

Para guru sekolah dasar (SD) memiliki kelompok kerja guru (KKG), sedangkan untuk SMP dan SMA dibentuk musyawarah guru mata pelajaran serta kelompok kerja kepala sekolah (K3S). Melalui wadah tersebut, tambah A Sinasari, yang lebih akrab disapa Karaeng Basse, para guru bebas mengemukakan pendapat terhadap solusi pendidikan yang ditemukan saat mengajar.

“Bila ada yang mengganjal dalam proses belajar-mengajar, para guru merundingkan dalam forum tersebut dan mencari solusinya,” tuturnya. Semua kegiatan yang merupakan inisiatif para guru dan kasek tersebut dapat mewujudkan Kabupaten Bantaeng menjadi daerah terkemuka di bidang pendidikan dan pada akhirnya akan menekan angka buta aksara. Demikian catatan online Blog Berita tentang Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah.


0 komentar: