Kamis, 08 Juli 2010

Demi Lalu Lintas Laut,Tinggalkan Anak Istri

Sunardi rela meninggalkan keluarga demi tugas menjaga Menara Suar Distrik Navigasi Belawan.


Keberadaan lampu di menara suar sangat penting.Membantu mengarahkan rute pelayaran pada malam hari. Terlebih bagi kapal yang tidak dilengkapi radar.

TAPI, sayangnya, tidak banyak orang yang peduli dan tahu dengan petugas yang mengendalikan lampu di menara suar itu. Adalah Sunardi, 46 tahun. Pria yang tinggal di Pasar 12, Marendal, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang ini mengaku telah bertugas di pulau terpencil itu menjaga dan menghidupkan lampu suar sejak 1983.

Selama 27 tahun bertugas di pulau terpencil berbagai kenangan dan kisah sedih dialami. Pertama kali ditugaskan Sunardi mengaku kaget. Bagaimana tidak,dirinya harus bertahan hidup di pulau yang tidak berpenghuni, penuh dengan kesunyian. Dia hanya tinggal bersama tiga orang rekannya sesama petugas navigasi Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut persisnya pada Menara Suar Distrik Navigasi Belawan Pulau Berhala. ”Dulu waktu pertama saya bertugas tahun 1983, kondisi Pulau Berhala tidak seperti ini. Belum ada pasukan Marinir yang menjaga pulau ini. Saya hanya tinggal bersama rekan petugas navigasi,” ujar Sunardi.

Pulau Berhala, sebutnya, tidak pernah dikunjungi orang.Karena hutannya yang lebat, sehingga orang takut berkunjung. Tak pelak seminggu ditugaskan di Pulau Terpencil, pikirannya ingin kembali ke rumah. Namun apalah daya, tidak ada kapal yang bersandar ke pulau yang luasnya 2,5 kilo meter persegi itu.”Mau tak mau kita harus bertahan. Meski kondisinya sangat sunyi dan sepi,” sebutnya. Namun karena mengemban tugas menjaga lalu lintas laut,Sunardi pun berupaya tegar dan tabah. Kedaan seperti itu dia lokoni hingga sekarang ini. Pria yang hanya lulusan SMA ini menyebut, tugas di pulau terpencil menjaga menara suar ada enak dan tidak enaknya. Tidak enaknya, sepi, tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga dan tidak bisa bebas keluar. Soalnya, tidak ada alat transportasi. Sebelum saya melanjutkan artikel ini, saya akan memberika dukungan sitemap untuk blog kawan saya:

ilmu rayap



Type Approval Indonesia



Nggo Kontes



Berita Kita



Dunia Berita



Hari™



Berita Terkini



Leak



Type Approval Partnership



Brita Utama



Reuni17



Xipoq



Indonesia Type Approval



SEO Blogger Blogspot



grandong blog



Berita Terkini



Sedangkan enaknya, tidak banyak keluar ongkos dan jam kerja tidak terikat. Untuk menghidupkan lampu menara suar di Pulau Berhala, Sunardi harus naik turun anak tangga yang jumlahnya mencapai 758 anak tangga. Belum lagi naik ke menara suar yang tinggi mencapai 25 meter. ”Dibutuhkan stamina dan fisik yang kuat.Kalau tidak bisa oyong. Inilah yang saya jalani setiap hari,” ucap Sunardi sambil menunjuk ke arah menara suar. Disebutkan Sunardi lagi, pengalaman paling berkesan menjaga menara suara di Pulau Ujung Tamiang dan Jambu Aye Aceh pada tahun 1990-an.Ketika itu, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sedang marak-maraknya. Seringkali anggota GAM datang ke kedua pulau itu dan menghampirinya. ”Waktu musim GAM, setiap hari jantungan.

Bahkan kalau malam saya tidak bisa tidur. Khawatir didatangi anggota GAM dari luar,” lanjutnya. Anggota GAM yang datang menghampirinya biasanya minta bahan bakar minyak (BBM), air bersih dan bahan makanan lainnya. Setiap kali diminta, Sunardi selalu memberi, sebab takut diganggu GAM.Tapi,untungnya,selama tugas di kedua pulau itu, anggota GAM tidak pernah menganggu. Selama 26 tahun bertugas dengan meninggalkan anak dan istri, Sunardi punya cara tersendiri untuk menghilangkan penyakit jenuh.Dia pun banyak melakukan aktivitas. Mulai dari pagi hari mematikan lampu di menara suar, bercocok tanam dan mencari penghasilan tambahan.

Seperti di Pulau Ujung Tamiang dan Jambu Aye Aceh dengan mencari kepiting dan mencari ikan ditambak. Hal senada juga dirasakan Andri. Petugas navigasi yang tinggal di Medan Marelan ini ketika pertama kali ditugaskan di pulau terpencil juga mengaku kaget. Tapi kini sudah terbiasa. ”Yang paling berat itu, menghilangkan rasa rindu dengan anak dan keluarga,” paparnya. Andri yang mendapat tugas bersama Sunardi ini mengatakan, kesedian sangat terasa bertugas di pulau terpencil ketika tiba bulan Ramadan dan Lebaran.

Di saat-saat umat Islam bergembira dan kumpul dengan keluarga, dirinya hanya bertiga tinggal di pulau yang sepi dan sunyi. Begitupun keduanya mengaku bangga mendapat kepercayaan menjaga lampu suar di pulau terpencil. Baginya, apa yang mereka lakukan memberi manfaat besar bagi orang lain.Namun yang mereka sedihkan, banyak yang tidak peduli dengan petugas suar di pulau terpencil termasuk pemerintah. Soalnya, sama sekali tidak ada gaji tambahan. Malah uang makan pun dipotong. ”Kami hanya minta perhatian pemerintah. Jangan seperti selama ini, sering dijanjikan akan ada gaji tambahan, tapi tidak pernah terbukti.

Malah uang makan yang mestinya kami terima Rp900.000 perbulan, yang dibelanjakan orang kantor hanya sekitar Rp700.000,” bebernya.


0 komentar: