Kamis, 25 Februari 2010

Strategi Meraih Capital Gain

Ada dua jenis keuntungan yang selalu dikejar investor ketika memutuskan berinvestasi di saham, yaitu capital gain dan dividen. Selain itu tidak ada. Capital gain adalah selisih antara nilai beli dengan nilai jual. Investor akan menikmati capital gain jika harga jual lebih tinggi dari harga beli (tentu saja dengan memperhitungkan biaya transaksi).Jika harga jual lebih rendah dari harga beli, investor akan merasakan pahitnya capital loss sedangkan dividen me-rupakan bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham. Dalam praktik,kebanyakan investor mengincar capital gain sedangkan dividen nomor dua. Syukur- syukur jika bisa mendapat keduanya.

Di sinilah letak nikmatnya berinvestasi saham. Pendek kata,gainadalah target utama investasi saham.Apalagi kalau gainitu bisa di dapat setiap hari dan menjadi pendapatan rutin yang akan meningkatkan aset investor. Karena itu, bisa dipahami jika setiap investor senantiasa berusaha keras agar selalu bisa memperoleh gain demi gain, keuntungan demi keuntungan. Untuk meraih gain sebesar-besarnya, setiap pelaku pasar memiliki pola investasi dan strategi sendiri- sendiri. Di lihat dari horizon waktu, ada yang gemar berinvestasi untuk jangka pendek, keluar– masuk dalam tempo yang sangat cepat, melakukan transaksi harian (daily trading).

Investor akan membeli ketika harga turun dan menjual ketika harga naik. Pola ini membutuhkan kemampuan yang tinggi, ketepatan analisa dan keberanian mengambil keputusan termasuk menanggung risiko yang mungkin terjadi setiap saat.Selain itu dibutuhkan konsentrasi tinggi sehingga investor juga dituntut menyediakan waktu untuk senantiasa memonitor setiap perkembangan yang terjadi di pasar. Meski begitu, cukup banyak pelaku pasar yang hanya berinvestasi jangka panjang, beli, tahan dan jual jika harga saham sudah sesuai dengan target. Pola seperti ini harus diniatkan sejak awal.

Investor tidak boleh resah ketika harga saham turun dan juga tidak buruburu menjual ketika harga saham naik, sebelum sampai target yang ditentukan. Dalam praktik jarang ditemukan investor yang benar-benar berinvestasi jangka panjang. Pada umumnya, pelaku pasar memilih dan mengalokasikan dana untuk dua pola investasi sekaligus, jangka pendek dan jangka panjang. Itu tadi dari sisi horizon waktu. Dari sisi jenis portofolio yang dimainkan, ada investor yang gemar bermain saham-saham kecil, saham lapis kedua (second liner) atau bahkan lapis ketiga (third liner) karena sangat menantang, menikmati naik turunnya harga saham dengan sangat cepat yang memacu adrenalin.

Saham jenis ini termasuk kategori saham berisiko tinggi, fundamental tidak istimewa dan rawan dimainkan, menurut About. Namun, jika harganya naik, keuntungan yang dihasilkan cukup menggiurkan. Di sisi lain banyak pelaku pasar yang membatasi portofolionya bermain di saham berkapitalisasi besar, dengan alasan likuid, fun-damentalnya bagus dan risikonya tidak besar. Saham jenis ini selalu tampil sebagai motor penggerak pasar. Pendek kata, mengutip is-tilah pasar: banyak jalan meraih untung. Pokoknya, apa pun pilihan portofolionya yang penting dapat capital gain.

Agar strategi berhasil gemilang, pelaku pasar kerap melengkapi diri dengan seperangkat alat bantu, yakni analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal merupakan analisis yang mengacu pada data historis harga saham. Untuk analisis fundamental mengandalkan data historis kinerja perusahaan atau emiten. Strategi tanpa alat bantu ibarat berjalan di ruang gelap, melangkah sekenanya dan asal-asalan. Dengan alat bantu pun kadang tidak selalu memuaskan investor. Investor selalu mencari alat bantu lain agar bisa menerapkan strategi investasi lebih mantap.

Alat bantu yang senantiasa dicari dan menjadi incaran adalah informasi seputar perkembangan emiten. Investor akan selalu pasang telinga untuk mendapatkan informasi terbaru dan akurat tentang emiten. Informasi yang menjadi incaran biasanya selalu terkait dengan rencana aksi korporasi (corporate action) atau perkembangan kinerja keuangan emiten.Jenis informasi seperti rencana merger,akuisisi, ekspansi, private placement, restrukturisasi utang, nilai deviden, stock split, proyek baru dan sebagainya akan selalu diburu oleh investor.

Sebab, semua jenis informasi itu akan berpengaruh terhadap kinerja saham. Begitu pentingnya informasi bagi pelaku pasar modal sampaisampai melahirkan apa yang disebut dengan teori Efficient Market Hipothesis (EMH) atau dikenal juga sebagai teori efisiensi pasar (market efficiency). Sebuah pasar disebut efisien jika informasi tentang pasar tersedia dan terdistribusi secara merata dalam waktu yang bersamaan sehingga efek informasi terhadap perubahan harga saham menjadi netral. Jika informasi tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh pelaku pasar, hal ini akan memunculkan apa yang disebut dengan istilah asimetric information.

Artinya,ada pihak yang di satu sisi menerima informasi penting tentang perkembangan kinerja emiten, tapi banyak juga yang tidak mendapatkan informasi yang sama.Sudah barang tentu, mereka yang mendapatkan informasi lebih awal akan lebih diuntungkan karena bisa memutuskan lebih awal apakah membeli, jual atau menahan portofolionya. Fakta yang ada hingga saat ini, informasi tentang emiten sering kali berseliweran di pasar. Hanya saja tidak semua informasi yang lalu lalang di pasar bisa ditelan bulat-bulat. Setiap informasi yang beredar memiliki tingkat validitas yang berbeda-beda.

Ada yang sangat valid, karena memang disampaikan dari sumber resmi,tapi ada juga yang harus disikapi dengan hati-hati karena muncul begitu saja di pasar. Informasi sering juga mencuat dalam bentuk rumor. Ini yang patut diwaspadai oleh investor karena bisa jadi informasi prematur justru sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak yang ingin mengail di air keruh.


0 komentar: