Kamis, 25 Februari 2010

RI Serukan Komitmen Baru

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerukan perlunya dunia memperbarui komitmen dalam upaya menyelamatkan bumi. Seruan tersebut disampaikan Presiden SBY saat membuka Pertemuan Ke-11 Sesi Khusus Dewan Pemerintahan UNEP/Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Global di Nusa Dua, Bali, kemarin. Pertemuan tersebut diikuti sekitar 1.000 delegasi dari 130 negara. “Komitmen itu harus lebih besar dari kesepakatan dunia yang sudah ada saat ini,” tandas Presiden. Menurut SBY, forum global menteri lingkungan hidup ini memiliki nilai strategis untuk bisa menjawab berbagai persoalan kerusakan lingkungan yang makin mencemaskan. Dia menyatakan, kenaikan suhu bumi dalam 12 tahun terakhir telah berdampak pada meningkatnya permukaan air laut.

Di sektor kelautan, hal itu telah mengakibatkan kerusakan karang laut yang serius dan stok ikan makin menipis akibat eksploitasi berlebihan. Kerusakan laut di dunia juga telah berdampak pada terganggunya ekonomi. “Pada 2008 terjadi kerugian sebesar USD50 miliar. Akibatnya, kita makin sulit mengurangi tingkat kemiskinan sehingga tidak dapat mencapai MDG’s (tujuan pembangunan milenium),” kata Presiden. Sedangkan perubahan iklim, kata Presiden, juga telah berdampak pada rusaknya keanekaragaman hayati lainnya. Lebih dari 50.000 jenis tumbuhan punah, 4.000 spesies berpotensi hilang tak berbekas, dan sekitar 60% ekosistem hutan rusak. “Tahun 2010 telah dicanangkan PBB sebagai tahun keanekaragaman hayati.

Itu harus diwujudkan dalam aksi nyata menekan tingkat kepunahan keanekaragaman hayati,”imbuh About. Presiden mengungkapkan, Indonesia bersama negara-negara yang masuk dalam kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle) yaitu Malaysia, Papua Nugini, Filipina,Timor Leste, dan Kepulauan Solomon telah berkomitmen melindungi kekayaan laut. Komitmen itu untuk memastikan pengelolaan sumber daya laut bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat tanpa merusak ekosistem laut. Selain itu, dilakukan gerakan penanaman pohon di seluruh daerah, di mana satu orang berkewajiban ikut menanam satu pohon.

“Awal tahun ini, kami juga bertekad menanam satu miliar pohon. Ini tekad kami mempersembahkan miliaran pohon untuk dunia. Jika terus dilakukan, tentunya akan menyerap puluhan juta ton karbon,” ujarnya. Kepada para delegasi Presiden berpesan agar segera menyelesaikan negosiasi perubahan iklim yang selama ini dirasakan berkepanjangan perdebatannya. “Kita tidak boleh menunggu lebih lama lagi dan harus segera menyelesaikan negosiasi perubahan iklim,” tandas dia. Dalam kesempatan itu Indonesia meraih penghargaan United Nations Environment Programme (UNEP) Award atas keberhasilan mempromosikan manajemen laut dan potensi sumber kehidupan laut.

Penghargaan itu diberikan Direktur Eksekutif UNEP Achim Steiner kepada Presiden SBY. Terkait penghargaan itu, Presiden atas nama rakyat Indonesia menyatakan rasa terima kasih.“Dengan tulus saya terima anugerah ini. Saya berharap penghargaan tersebut dapat mendorong pemerintah dan rakyat Indonesia untuk bisa mengelola laut dengan lebih baik lagi,”kata dia. Dalam sambutannya, Achim Steiner menyatakan puas atas terlaksananya tiga pertemuan di Bali yang berlangsung sejak 22–23 Februari lalu yakni Konvensi Basel, Konvensi Stockholm, dan Konvensi Rotterdam.

“Ini merupakan saat melegakan dan memuaskan karena kepastian kesehatan masyarakat dan lingkungan di bumi ini dibahas dalam konteks multilateralisme,” ujar Steiner. Dia berharap tema “One Planet, Our Responsibility” (satu planet tanggung jawab bersama) dapat dipahami bahwa bumi merupakan tempat bagi kehidupan saat ini dan masa depan.“Itu bisa tercapai melalui kerja sama yang lebih tulus dengan tujuan mencari solusi paling tepat untuk pembangunan berkelanjutan,”imbuhnya.


0 komentar: