Kamis, 25 Februari 2010

Puluhan Stasiun Direnovasi

Untuk meningkatkan kenyamanan penumpang,sebanyak 57 stasiun di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tahun ini akan direnovasi. Stasiun-stasiun tersebut biasa melayani pemberhentian dan pemberangkatan KRL Jabodetabek. Sekretaris Korporasi PT KAI Commuter Jabodetabek Makmur Syaheran mengatakan, renovasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelayanan. Saat ini perawatan baru dilakukan dengan pencucian dan pengecatan stasiun. Selain itu,eskalator di beberapa stasiun layang akan diaktifkan lagi. Renovasi akan dilakukan sesuai tingkat kerusakan.”Program utama 2010 adalah merenovasi seluruh stasiun yakni 57 stasiun di Jabodetabek.

Stasiun ini disinggahi KRL dan menjadi domain kita.Di luar jumlah itu ada delapan stasiun besar yang menjadi tempat pemberhentian kereta jarak jauh ada di bawah domain PTKADaopI,”kata Makmur kepada About. Pada tahap pertama sudah dilakukan tender renovasi 17 stasiun. Sisanya akan direnovasi pada tahap berikutnya. Untuk tahap pertama ini renovasi dilakukan di sejumlah stasiun yang penumpangnya banyak seperti Cilebut dan Citayam.

Anggaran yang dialokasikan bergantung luas stasiun. ”Setiap stasiun beda-beda. Nanti di konsultan perencana melihat berapa tempat,”tandasnya. Makmur mengatakan, anggaran renovasi tersebut digabung dengan tiga program lainnya yakni pengadaan kereta, pemindahan kantor ke Stasiun Juanda, dan eticketing. Total anggaran untuk empat kegiatan tersebut Rp200 miliar. Anggaran tersebut berasal dari modal perseroan. Makmur berharap dengan anggaran tersebut renovasi 17 stasiun sudah ter-cover, bahkan kalau bisa bertambah.

Makmur menggambarkan beberapa renovasi yang akan dilakukan misalnya pelebaran ruang peron untuk stasiun yang jumlah penumpangnya banyak. Renovasi juga dilakukan terhadap toilet stasiun agar penumpang lebih nyaman. Ditanya mengenai kemungkinan penambahan jam operasi KRL, menurut Makmur,bukan wewenang dari PT KAI Commuter Jabodetabek. Makmur menyatakan, pengaturan mengenai perubahan jadwal (ditambah ataupun dikurangi) dilakukanolehPTKA. Pengaturantersebut mengacu pada grafik perjalanan kereta (GPK). ”Biasanya setiaptahundievaluasi.

Adapununtuk perubahan jadwal disesuaikan dengan kebutuhan, serta kelengkapan sarana dan prasarana,”ujarnya. Lebih lanjut Makmur mengungkapkan, pihaknya sebenarnya sangat ingin menambah jadwal operasi KRL. Namun, dia mengingatkan bahwa pengoperasian KRL tidak hanya bergantung satu faktor. Banyak faktor yang memengaruhi operasional KRL seperti pasokan listrik,ketersediaan kereta, kondisi rel, maupun kelengkapan fasilitas di stasiun.”Kalau kami maupun penumpang sangat ingin jadwal operasi ditambah. Tapi, seringkali kita terbentur masalah teknis seperti listrik dan masalah-masalah lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, kepala Bidang Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial PT KAI Commuter Jabodetabek Johanita Cekle menyatakan, jumlah penumpang KRL mencapai 400.000 orang per hari. Dari jumlah tersebut sebanyak 70% menggunakan KRL ekonomi dan 30% menggunakan KRL ekspres. Sedangkan dari segi pendapatan, 60% dari KRL ekspres dan 40% dari KRL ekonomi. Hal itu imbas dari perbedaan harga tiket.”Harga tiket KRL ekspres lebih mahal ketimbang ekonomi,”tandasnya. Menurut Johanita, pada 2011 ditargetkan jumlah penumpang mencapai 2,1 juta orang per hari.

Untuk itu, beberapa langkah strategis sudah dilakukan misalnya menambah jumlah armada.Menurut Makmur, untuk anggaran 2008 ada penambahan kereta sebanyak delapan unit.Realisasinya baru dilakukan pada Februari 2009. Sedangkan tahun ini akan dilakukan pengadaan armada sebanyak 40 unit.”Untuk 2010 sudah dilakukan tender internasional sebanyak 40 unit kereta,”ungkapnya. Johanita menegaskan, penambahan kereta akan terus dilakukan hingga jumlahnya cukup.

Kebutuhan kereta untuk Jabodetabek sebanyak 500 unit. Saat ini baru tersedia 386 unit kereta.”Idealnya memang 500 unit. Kita akan terus lakukan penambahan,”janjinya.


0 komentar: